12/16/2010

Jilbab Pertama Rina

Sanguine-Melancholic .....pernah dengar gak?hmm...aku hampir yakin sepenuhnya kalau aku adalah termasuk orang dalam kategori ini. tapi kali ini aku tidak akan membahas tentang istilah ataupun penjelasan tentang karakter seorang Sanguinis-Melankolis. Aku hanya ingin melegalkan kebiasaanku bernostalgia karena yaa...aku seorang melankolis....*dangkal banget nih*

Rasanya menyenangkan ketika mengingat hal-hal indah yang pernah dilalui. meskipun terkadang sedikit sakit karena rindu, tapi tetap saja aku lebih pantas untuk bersyukur ketimbang tenggelam dalam fenomena "seandainya" atau "jika saja".

Sebuah kenangan yang tidak akan pernah menua, dan benar-benar sukses menamparku tepat di muka. Kenangan itu muncul secara sangat nyata kemarin ketika aku berbicara di telpon dengan mantan room-mate ku di Adams Hall, Athens Ohio. Room-mateku itu mengajakku berbicara mengenai sebuah kejadian di Athens di hari pertama sahabatku Rina Dewi berjilbab.

aku masih ingat pagi itu seperti biasa aku mengetuk kamar #230, kamar Ummong, untuk menjemputnya sarapan. karena cuma kami yang masuk kelasnya agak siang. tiba-tiba mata Ummong berkaca-kaca ketika mengatakan bahwa hari itu Rina pagi-pagi datang ke kamarnya dan meminta dijilbabi sambil menangis. Rina menceritakan tentang hatinya yang tidak tenang semalaman, dan dia memutuskan untuk berjilbab. Aku dan ummong berpelukan dan begitu bersyukur karena hidayah yang diperoleh sahabat kami tersebut.

setelah selesai sarapan di dining hall (yang sebenarnya tidak mampu kuhabiskan), aku dan ummong langsung pergi. jam 10 pagi adalah kelas ummong di Scott building, aku masih ada satu jam free karena jam kelas pertamaku adalah pukul 11 pagi. tanpa fikir panjang akupun berlari menuju Alden Library karena sebelumnya Ummong bilang Rina akan memprint tugasnya disana. saat aku masuk di pintu utama, kulihat Rina duduk di depan komputer membelakangiku.Dia satu-satunya gadis berjilbab disana. Mengenakan baju kurung panjang selutut warna jingga dan jilbab senada,  dia terlihat sangat sibuk, bolak balik mengetik dan mengklik mouse dihadapannya. pelan pelah kudekati dia, dan ketika ia berbalik dan berdiri aku hanya bisa mengucap "subhanallah", dia gadis yang jauuuuh lebih cantik daripada dia yang kutemui sebelumnya. dan dia adalah sahabatku. aku bangga punya dia. meskipun dia hanya memakai pakaian seadanya dari kami. dia tetap nampak sangat cantik. dia seorang gadis bandung yang kami kenal sangat cinta dengan fashion dan sangat memperhatikan penampilan. menjadi tidak peduli dengan apapun yang ia pakai asalkan ia berjilbab.kami hanya bisa memberi selamat padanya.

setelah hari itu, Rina datang ke #265, kamarku dan Asri. dia menceritakan hari pertamanya berjilbab dan kami mendengarkan dengan penuh antusias. sambil mata berkaca-kaca aku dan asri betasbih bersyukur. tiba-tiba asri membukakan laci lemarinya dan mengeluarkan selembar jilbab berwarna coklat keemasan. di serahkannya jilbab itu ketangan rina, dan tiba-tiba saja rina menciumi jilbab itu sambil menangis tersedu-sedu dan berkata "ade...terima kasih..ini jilbab pertamaka rina...ini jilbab pertamaku" ya Allah....sungguh momen yang sangat menggetarkan hati. kami bertiga berpelukan dan menangis bersama-sama. setiap malam setelah itu Rina selalu datang ke kamar kami dan mengajak mengaji bersama. aku bisa bilang, gara-gara dia kami bisa bersatu dalam ibadah..mengaji dan sholat bersama dan merenung bersama. tidak terlalu istimewa mungkin..tapi bagi kami itu sangat istimewa karena kami berada sangat jauh dari rumah, terlebih lagi kami berada di negara yang mayoritasnya adalah non- muslim.

aku sangat ingin memberikan sesuatu untuk Rina, tapi pelajaran dari Rina membuatku sadar ini juga saatnya untuk aku mulai berubah. paling tidak dari segi berpakaian. meskipun aku memakai penutup kepala, aku belum lagi berjilbab. aku memakai metode lepas- pasang dan jilbabku pendek-pendek. karena itulah aku tidak dapat memberikan jilbab pada Rina. akhirnya kuputuskan untuk memberikan mukenaku untuk Rina pakai.semoga Allah selalu menjaga dia, menjaga hatinya, menjaga keimanannya, dan juga menjadikannnya wanita pilihan selamanya.

kala itu, Amerika Serikat adalah mekkah pertama baginya juga mekkah pertama buatku...

0 komentar:

Posting Komentar