12/15/2010

Banjarmasin, Paman Sam, dan Negeri Van Oranje

Kalau aku disebut pemimpi maka dengan bangga aku akan berkata iya. karena memang bermimpi adalah hobi paling murah bahkan cenderung gratis dan pada akhirnya mimpi jualah yang membawa aku menapaki tanah-tanah impianku. hanya bermodal iktikad, keyakinan, dan tempaan semangat, aku bisa berjalan tegak menghadapi dunia yang penuh warna warni ini.
Aku ...si pemimpi yang ingin berbicara dengan berbagai bahasa, si pemimpi yang tidak pernah surut keyakinan, si pemimpi yang jatuh bangun akan tetap bangkit dan berlari dan pada akhirnya aku bisa menjadikan mimpiku kendaraan tercepat menuju petualangan- petualangan indah, mengajakku berkenalan dengan orang-orang luar biasa, memberiku pelajaran tentang hidup dan penghidupan, dan mimpiku jua yang membuat orang tuaku bisa tersenyum cerah dan bangga.
lahir di desa yang mungkin tak seorangpun bisa menemukannya di peta dunia, aku besar di ibukota tanah borneo sebelah selatan yang berjuluk Kota Seribu Sungai ini. aku anak yang sedari kecil tidak tahu bagaimana senangnya bermain boneka, tidak bisa membandingkan kue chiffon dengan black forest karena yang bisa kucicipi hanyalah kue "terang bulan" yang tidak habis terjual ketika abahku menjajakannya keliling kelurahan. aku yang sedari kecil tidak berani bergaul karena cacat yang kudapat di tangan kananku karena kecelakaan rumah tangga dulu. tapi aku anak yang berkemauan keras,kadang cenderung keras kepala, aku yang beberapa tahun kemudian dengan beraninya bermimpi untuk kuliah dan mengatakan akan pergi ke negerinya Paman Sam. dan Allah mengabulkan mimpiku. aku yakin meski bertahun-tahunpun, akan kudapati apa yang selalu kuimpikan.
Ketika aku bermimpi, abahku memang hanya seorang supir taksi, mamaku memang seorang pembersih ikan. namun, mimpi tidak mengenal kelas sosial. mimpi itu tempat hiburan teradil dan ruang kerja teraman untuk hidupku. ketika aku bermimpi, bahkan di sudut rumah petakan di banjarmasin ini mampu kususun mimpi itu menjadi dokumenter beberapa halaman di sebuah formulir beasiswa yang kemudian menjadi tiket perjalanan termahal yang pernah kulakukan sepanjang hidupku. ketika aku bermimpi, tanah Paman Sam menantiku.
Itu setahun yang lalu, ketika kudapatkan pengalaman tak ternilai, persahabatan tak tergantikan, dan pelajaran yang tak disebutkan di kurikulum sekolahan. setahun yang lalu pula kusebutkan mimpiku berikutnya di bis ketika kami akan terbang pulang ke Indonesia. aku berkata pada sahabatku, "tahun depan aku ke Belanda"..dan voila...........Allahu Akbar...tinggal lima minggu lagi perjalananku ke Negeri Van Oranje akan dimulai....tunggu ceritaku kawan, 365 hariku di Eropa, tanah mimpi kedua.

0 komentar:

Posting Komentar