12/15/2010

Momen Cahaya

Aku suka cahaya yang pendar. cahaya yang memancarkan kelembutan sekaligus kekuatan. Cahaya yang memberikan harapan dan ketenangan. Cahaya yang terang namun tidak menyilaukan. Aku begitu menyukai cahaya, sehingga ketika cahaya itu ada bersamaan momen penting dalam hidupku, maka cahaya itu akan selamanya terekam di benakku. aku masih mengingat dengan jelas momen cahaya senja di langit atlantik. Momen ini begitu indahnya, cahaya mega yang aku lihat melalui kaca pesawat United Airlines yang melintasi samudera atlantik. Ketika aku bersama 17 anak muda luar biasa dari indonesia mengadakan perjalanan terpanjang selama hidup kamu menuju tanah Amerika Serikat. Meskipun sudah lama aku tahu bahwa siluet senja itu indah, namun tidak pernah kulihat senja seindah kala itu. senja di langit Atlantik. begitu juga dengan
cahaya yang kudapati di Hocking River, Athens Ohio. Momen yang tidak kalah indah, ketika aku bisa duduk santai dan merenung di tepian Hocking River dan mensyukuri hidupku. Lewat tengah malam ketika bulan bersinar sempurna dan muncul dari balik perbukitan.Aku suka cahaya,terlebih dikegelapan. cahaya membuat aku merasa memiliki harapan dan berani tampil diantara kejemuan. aku pun masih ingat ketika pernah suatu waktu di malam musim panas tahun lalu, aku duduk sendirian dibawah pohon cemara dan tanpa takut beberapa banyak  kunang-kunang mengitariku. seakan kami berkawan dan aku juga menjadi tidak takut sendirian. kunang-kunang dan pepohonan cemara yang indah.namun, cahaya indah tidak hanya bisa kutemui dikesunyian. Ia pun bisa memanjakanku ditengah hiruk pikuknya kota jakarta yang begitu padat. baru minggu lalu aku menyadari indahnya langit jakarta di malam hari. ketika aku berjalan sendirian menyusuri gang menuju tempat tinggal kawanku. saat itu memang bukan pertama kalinya aku ada dijakarta.namun, saat-saat ketika cahaya menemuiku dikala aku sendirian selalu jadi momen yang menyenangkan.

Bukan baru-baru ini saja aku suka cahaya, dulu ketika aku masih kuliah dan tinggal dirumah kos. aku memilih untuk berada dilantai atas. karena aku memiliki hobi untuk mematikan lampu kamarku sebelum tidur dan membuka jendela lebar-lebar. membiarkan angin segar dan cahaya bulan masuk menerangi kamarku. bahkan seringkali aku di marahi ibu kosku karena lupa mengunci kembali jendela sampai pagi.

cahaya juga mengingatkanku kembali pada malam ketika aku bersama seorang sahabat menatap lampu-lampu taman sembari duduk didepan kampus Gordy Hall dan mencurahkan isi hati. pada akhirnya cahaya itu memang indah, dan terasa semakin indah ketika ada teman-teman terbaik yang mengisi momen itu dengan pelajaran dan pengalaman berharga.

0 komentar:

Posting Komentar